Saya pernah membaca buku yang
berjudul AAS (ayat-ayat semesta), dalam buku tersebut berbicara tentang
mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan
ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur'an pada
sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan
sains dan teknologi. Bagi Agus Purwanto, yang terlibat dalam fisika sebagai
misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat
tahajud. berikut ini adalah ringkasan dari buku AAS Sejak abad ke-17 hubungan
sains dan agama mengalami ketegangan yang tak kunjung henti hingga kini.
pendekatan dialog harus terus diupayakan, kesamaan maupun perbedaany. Di Barat,
relasi agama dan sains menjadi isu yang kontroversial. Uniknya, hal tersebut
juga berimbas ke lingkungan akademisi dua agama, yakni Islam dan Kristen.
Dalam sejarah tradisi intelektual
Islam ataupun Kristen sejak periode awal hingga Abad Pertengahan, wacana
hubungan agama dan sains cukup pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual
bidang keagamaan. Jadi, relasi antara agama dan sains bukanlah isu baru. Dalam
buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains (2004), Mehdi Golshani berpendapat bahwa
sains dan Islam bukan isu baru. Keduanya, kata Mehdi, sama-sama memiliki dasar
metafisika dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan ataupun pengetahuan yang
diupayakan, ialah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat
manusia. Singkat kata, kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama (”ilmu
amaliah” dan “amal ilmiah”). Namun, hal penting yang perlu digarisbawahi:
kegiatan ilmiah atau sains harus tetap memiliki metodologi dan bahasa sendiri.
Oleh karena itu, kita perlu menggeser anggapan “agama vs sains” dengan
menyadari bahwa ada keterbatasan sains oleh para ilmuwan, dan karena campur
tangan yang tak semestinya terjadi dari para otoritas agama dalam persoalan
saintifik.
Dengan begitu, relasi agama dan
sains tetap dibutuhkan dan dianggap penting oleh umat manusia. Jika
pertimbangan itu dipakai, maka sains justru bisa memperkuat iman kepada Tuhan.
Ada empat hal yang dapat membawa sains kepada agama (Tuhan). Pertama, sains
memperkenalkan kita dengan sifat beberapa dimensi alam semesta dan bukan
keseluruhan. Kedua, sains tak bisa menjawab pertanyaan ultimat: dari mana
datangnya alam semesta? Ketiga, sains membutuhkan kerangka metafisik yang bisa
menjustifikasi keberhasilannya. Keempat, sains itu empirik. Dalam konteks
Islam, para sarjana Muslim harus tetap menekankan bahwa motivasi utama di balik
upaya pencarian ilmu-ilmu sains ialah guna mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam
semesta (baca: ayat kauniah). Itu berarti, setiap bidang ilmu akan menunjukkan
satu dimensi ciptaan-Nya. Jika begitu, mungkin saatnya kita akhiri perdebatan
“agama vs sains” di sini. Bagaimanapun, posisi agama dan sains tetap sama,
keduanya tetap penting dan bermakna. Yang jelas, agama dan sains berevolusi. Agama
berevolusi dari yang paling sederhana hingga yang paling lunggit atau tinggi
sekali. Sehingga, tauhid yang mula-mula amat sederhana, tapi untuk memraktikkannya
terus-menerus berubah.
Dari pola Nabi Ibrahim yang
sederhana yang shuhufnya sudah tidak kita kenali lagi hingga tauhid Alquran
yang penuh metafor. Sains pun terus-menerus berevolusi. Dilihat dari sejarah,
sains pada zaman keemasan Islam belum bisa dikatakan sebagai sains seperti di
zaman modern, lantaran sains di zaman modern merupakan kajian objektif terhadap
fenomena dan harus bisa diverifikasi kebenarannya oleh pihak lain. Sains ya
sains, tak ada sains sekuler atau sain agamis. Sekuler atau agamis hanyalah
cara pandang terhadap kerja dan hasil kerja sains. Jadi, patokan dalam sains
ya:
(1) objek yang diteliti terukur.
(2) kaitan-kaitan objek yang
diteliti harus dapat dilihat dengan jelas.
(3) runtutan pengamatan dan
berpikir metodis harus tertata rapi.
(4) kebenaran hasilnya harus
dapat diverifikasi pihak lain.
Jadi, sains tidak berurusan
secara langsung dengan realitas atau nomena, tapi berkaitan dengan fakta-fakta.
Urusan realitas akan dikaji lebih dalam di dunia FILSAFAT. Jadi, berdasarkan
sains –misalnya babi– kita hanya mengkaji apakah daging babi layak dikonsumsi
manusia atau tidak, dan tidak berurusan dengan haram atau halal kalau dimakan. pandangan
lain Umat Islam, mulai dari kalangan skripturalis-fundamentalis sampai kontekstualis-liberal
hingga kini masih satu pandangan dan keyakinan bahwa al-Quran merupakan kitab
utama yang berkedudukan tertinggi. Diturunkannya al-Quran ke muka bumi diimani
sebagai panduan umat manusia (huda al-linnas) dalam menjalani kehidupan di
dunia.
Karena itu pula al-Quran
dipercaya sebagai sumber nilai obyektif, universal dan abadi. Ajaran al-Quran
mencakup seluruh aspek kehidupan (as-Syumul). Juga mencakup seluruh ruang
lingkup kehidupan, ulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, Negara
dan bahkan global (internasional). Namun demikian, pengetahuan umat Islam
tentang al-Quran tidak jarang dipahami sangat dangkal dan sempit. Universalitas
al-Quran kemudian direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan
politik (siyasah) saja. Umat Islam justru banyak mengabaikan pesan-pesan
al-Quran yang berkaitan dengan persoalan-persoalan metafisik (kealaman). Ada kesan bahwa persoalan-persoalan kealaman bukan
bagian dari persoalan ukhrawi. Bahkan khusus untuk membincangkan “kebangkitan
Islam”, tidak dapat dipungkiri bahwa fokusnya selalu dibelokkan ke ranah
politik praktis-ideologis. Seakan-akan hanya dengan pendirian “negara
khilafah”, kejayaan Islam dapat dibangkitkan kembali.
Sedangkan aspek lain, utamanya
aspek pengembangan ilmu pengetahuan, hanya menjadi suplemen (tambahan) bila
impian tentang Negara khilafah telah dapat diwujudkan, seolh pengembangan ilmu
pengetahuan masih bukan persoalan yang mendesak bagi dunia Islam. Memperhatikan
pereduksian al-Quran dan Islam sedemikian sempit, akhirnya Agus Purwanto, D.
Sc., seorang doktor fisika teori alumni Universitas Hiroshima Jepang dan kader
militan Muhammadiyah yang juga dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya, berupaya keras untuk menjebol kesempitan tersebut. Dengan kepakaran
dalam fisika teori, dia berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain.
Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim, Agus Purwanto yakin bahwa
kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Dalam buku “Ayat-Ayat Semesta”
ini, Agus Purwanto membeber bukti tentang luluh lantaknya Afghanistan dan Irak
yang justru oleh produk sains Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris. Di
sisi lain, negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim seperti
Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tapi
kelimpahruahan tersebut tidak kemudian berarti kemakmuran dan kesejahteraan
bagi masyarakatnya. Sebabnya satu: umat Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan
baik teoritis maupun praktis (hal 24-25). Dengan melandaskan pada tafsir
al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo,
Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus
Purwanto bermaksud menggedor kesadaran umat Islam – utamanya kalangan akademisi
– bahwa sesungguhnya ada 750 ayat kauniyyah dalam al-Quran yang terselip di
antara 6236 ayat. Sedangkan ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja.
Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk
membahas persoalan fikih
– yang justru sering memicu
perseteruan dan konflik antar umat Islam – daripada membahas fenomena terbitnya
matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit,
kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban
alam lainnya. Agus Purwanto mengingatkan bahwa fungsi al-Quran juga berlaku
bagi konstruksi ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk tentang
prinsip-prinsip sains yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan
spiritual. Dengan kata lain, wahyu (dan sunnah) dapat dijadikan sebagai sumber
inspirasi bagi bangunan ilmu pengetahuan (hal 193). Maka tidaklah berlebihan
bila berbagai pujian dari kalangan intelektual Islam mengalir deras atas
hadirnya buku ini. Doktor Terry Mart, seorang fisikawan UI penerima Habibie
Award untuk Ilmu Dasar (2001) menilai buku ini sebagai buku pertama yang
ditulis oleh seorang fisikawan partikel teori Indonesia. Karenanya, patut
menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam
logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika. Sedang Prof. Dr.
Jalaluddin Rahmat (Kang Jalal) menyebut buku ini sebagai buku ajakan terhadap kaum
Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan Ilahi. Berdasar
dari rujukan diatas, sains merupakan suatu pengetahuan yang berdasar pada
peradapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar