teks jalan

ISLAM is not ENEMY

Kamis, 11 Oktober 2012

Science Islam vs Science Modern

Saya pernah membaca buku yang berjudul AAS (ayat-ayat semesta), dalam buku tersebut berbicara tentang mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur'an pada sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bagi Agus Purwanto, yang terlibat dalam fisika sebagai misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat tahajud. berikut ini adalah ringkasan dari buku AAS Sejak abad ke-17 hubungan sains dan agama mengalami ketegangan yang tak kunjung henti hingga kini. pendekatan dialog harus terus diupayakan, kesamaan maupun perbedaany. Di Barat, relasi agama dan sains menjadi isu yang kontroversial. Uniknya, hal tersebut juga berimbas ke lingkungan akademisi dua agama, yakni Islam dan Kristen.
Dalam sejarah tradisi intelektual Islam ataupun Kristen sejak periode awal hingga Abad Pertengahan, wacana hubungan agama dan sains cukup pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual bidang keagamaan. Jadi, relasi antara agama dan sains bukanlah isu baru. Dalam buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains (2004), Mehdi Golshani berpendapat bahwa sains dan Islam bukan isu baru. Keduanya, kata Mehdi, sama-sama memiliki dasar metafisika dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan ataupun pengetahuan yang diupayakan, ialah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Singkat kata, kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama (”ilmu amaliah” dan “amal ilmiah”). Namun, hal penting yang perlu digarisbawahi: kegiatan ilmiah atau sains harus tetap memiliki metodologi dan bahasa sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menggeser anggapan “agama vs sains” dengan menyadari bahwa ada keterbatasan sains oleh para ilmuwan, dan karena campur tangan yang tak semestinya terjadi dari para otoritas agama dalam persoalan saintifik.
Dengan begitu, relasi agama dan sains tetap dibutuhkan dan dianggap penting oleh umat manusia. Jika pertimbangan itu dipakai, maka sains justru bisa memperkuat iman kepada Tuhan. Ada empat hal yang dapat membawa sains kepada agama (Tuhan). Pertama, sains memperkenalkan kita dengan sifat beberapa dimensi alam semesta dan bukan keseluruhan. Kedua, sains tak bisa menjawab pertanyaan ultimat: dari mana datangnya alam semesta? Ketiga, sains membutuhkan kerangka metafisik yang bisa menjustifikasi keberhasilannya. Keempat, sains itu empirik. Dalam konteks Islam, para sarjana Muslim harus tetap menekankan bahwa motivasi utama di balik upaya pencarian ilmu-ilmu sains ialah guna mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta (baca: ayat kauniah). Itu berarti, setiap bidang ilmu akan menunjukkan satu dimensi ciptaan-Nya. Jika begitu, mungkin saatnya kita akhiri perdebatan “agama vs sains” di sini. Bagaimanapun, posisi agama dan sains tetap sama, keduanya tetap penting dan bermakna. Yang jelas, agama dan sains berevolusi. Agama berevolusi dari yang paling sederhana hingga yang paling lunggit atau tinggi sekali. Sehingga, tauhid yang mula-mula amat sederhana, tapi untuk memraktikkannya terus-menerus berubah.
Dari pola Nabi Ibrahim yang sederhana yang shuhufnya sudah tidak kita kenali lagi hingga tauhid Alquran yang penuh metafor. Sains pun terus-menerus berevolusi. Dilihat dari sejarah, sains pada zaman keemasan Islam belum bisa dikatakan sebagai sains seperti di zaman modern, lantaran sains di zaman modern merupakan kajian objektif terhadap fenomena dan harus bisa diverifikasi kebenarannya oleh pihak lain. Sains ya sains, tak ada sains sekuler atau sain agamis. Sekuler atau agamis hanyalah cara pandang terhadap kerja dan hasil kerja sains. Jadi, patokan dalam sains ya:
(1) objek yang diteliti terukur.
(2) kaitan-kaitan objek yang diteliti harus dapat dilihat dengan jelas.
(3) runtutan pengamatan dan berpikir metodis harus tertata rapi.
(4) kebenaran hasilnya harus dapat diverifikasi pihak lain.
Jadi, sains tidak berurusan secara langsung dengan realitas atau nomena, tapi berkaitan dengan fakta-fakta. Urusan realitas akan dikaji lebih dalam di dunia FILSAFAT. Jadi, berdasarkan sains –misalnya babi– kita hanya mengkaji apakah daging babi layak dikonsumsi manusia atau tidak, dan tidak berurusan dengan haram atau halal kalau dimakan. pandangan lain Umat Islam, mulai dari kalangan skripturalis-fundamentalis sampai kontekstualis-liberal hingga kini masih satu pandangan dan keyakinan bahwa al-Quran merupakan kitab utama yang berkedudukan tertinggi. Diturunkannya al-Quran ke muka bumi diimani sebagai panduan umat manusia (huda al-linnas) dalam menjalani kehidupan di dunia.
Karena itu pula al-Quran dipercaya sebagai sumber nilai obyektif, universal dan abadi. Ajaran al-Quran mencakup seluruh aspek kehidupan (as-Syumul). Juga mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan, ulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, Negara dan bahkan global (internasional). Namun demikian, pengetahuan umat Islam tentang al-Quran tidak jarang dipahami sangat dangkal dan sempit. Universalitas al-Quran kemudian direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan politik (siyasah) saja. Umat Islam justru banyak mengabaikan pesan-pesan al-Quran yang berkaitan dengan persoalan-persoalan metafisik (kealaman).  Ada kesan bahwa persoalan-persoalan kealaman bukan bagian dari persoalan ukhrawi. Bahkan khusus untuk membincangkan “kebangkitan Islam”, tidak dapat dipungkiri bahwa fokusnya selalu dibelokkan ke ranah politik praktis-ideologis. Seakan-akan hanya dengan pendirian “negara khilafah”, kejayaan Islam dapat dibangkitkan kembali.
Sedangkan aspek lain, utamanya aspek pengembangan ilmu pengetahuan, hanya menjadi suplemen (tambahan) bila impian tentang Negara khilafah telah dapat diwujudkan, seolh pengembangan ilmu pengetahuan masih bukan persoalan yang mendesak bagi dunia Islam. Memperhatikan pereduksian al-Quran dan Islam sedemikian sempit, akhirnya Agus Purwanto, D. Sc., seorang doktor fisika teori alumni Universitas Hiroshima Jepang dan kader militan Muhammadiyah yang juga dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berupaya keras untuk menjebol kesempitan tersebut. Dengan kepakaran dalam fisika teori, dia berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain. Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim, Agus Purwanto yakin bahwa kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam buku “Ayat-Ayat Semesta” ini, Agus Purwanto membeber bukti tentang luluh lantaknya Afghanistan dan Irak yang justru oleh produk sains Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris. Di sisi lain, negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tapi kelimpahruahan tersebut tidak kemudian berarti kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sebabnya satu: umat Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan baik teoritis maupun praktis (hal 24-25). Dengan melandaskan pada tafsir al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo,
Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus Purwanto bermaksud menggedor kesadaran umat Islam – utamanya kalangan akademisi – bahwa sesungguhnya ada 750 ayat kauniyyah dalam al-Quran yang terselip di antara 6236 ayat. Sedangkan ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja. Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk membahas persoalan fikih
– yang justru sering memicu perseteruan dan konflik antar umat Islam  – daripada membahas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit, kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban alam lainnya. Agus Purwanto mengingatkan bahwa fungsi al-Quran juga berlaku bagi konstruksi ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk tentang prinsip-prinsip sains yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Dengan kata lain, wahyu (dan sunnah) dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi bangunan ilmu pengetahuan (hal 193). Maka tidaklah berlebihan bila berbagai pujian dari kalangan intelektual Islam mengalir deras atas hadirnya buku ini. Doktor Terry Mart, seorang fisikawan UI penerima Habibie Award untuk Ilmu Dasar (2001) menilai buku ini sebagai buku pertama yang ditulis oleh seorang fisikawan partikel teori Indonesia. Karenanya, patut menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika. Sedang Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat (Kang Jalal) menyebut buku ini sebagai buku ajakan terhadap kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan Ilahi. Berdasar dari rujukan diatas, sains merupakan suatu pengetahuan yang berdasar pada peradapan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar