teks jalan

ISLAM is not ENEMY

Selasa, 16 Oktober 2012

Epistimologi BAYANI, BURHANI DAN IRFANI

Pada prinsipnya, Islam telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis yang ada [bayani, irfani dan burhani ], dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat tekstual dan corak berpikirirfani [kasyf] yang sangat sufistik. Kedua kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio [ burhani ] secara optimal.

Dalam epistemologi bayani sebenarnya ada penggunaan rasio [akal], tapi relatif sedikit dan sangat tergantung pada teks yang ada. Penggunaan yang terlalu dominan atas epistemologi ini, telah menimbulkan stagnasi dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan epistemologi bayani selalu menempatkan akal menjadi sumber sekunder, sehingga peran akal menjadi terpasung di bawah bayang-bayang teks, dan tidak menempatkannya secara sejajar, saling mengisi dan melengkapi dengan teks.

Kamis, 11 Oktober 2012

Science Islam vs Science Modern

Saya pernah membaca buku yang berjudul AAS (ayat-ayat semesta), dalam buku tersebut berbicara tentang mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur'an pada sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bagi Agus Purwanto, yang terlibat dalam fisika sebagai misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat tahajud. berikut ini adalah ringkasan dari buku AAS Sejak abad ke-17 hubungan sains dan agama mengalami ketegangan yang tak kunjung henti hingga kini. pendekatan dialog harus terus diupayakan, kesamaan maupun perbedaany. Di Barat, relasi agama dan sains menjadi isu yang kontroversial. Uniknya, hal tersebut juga berimbas ke lingkungan akademisi dua agama, yakni Islam dan Kristen.
Dalam sejarah tradisi intelektual Islam ataupun Kristen sejak periode awal hingga Abad Pertengahan, wacana hubungan agama dan sains cukup pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual bidang keagamaan. Jadi, relasi antara agama dan sains bukanlah isu baru. Dalam buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains (2004), Mehdi Golshani berpendapat bahwa sains dan Islam bukan isu baru. Keduanya, kata Mehdi, sama-sama memiliki dasar metafisika dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan ataupun pengetahuan yang diupayakan, ialah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Singkat kata, kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama (”ilmu amaliah” dan “amal ilmiah”). Namun, hal penting yang perlu digarisbawahi: kegiatan ilmiah atau sains harus tetap memiliki metodologi dan bahasa sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menggeser anggapan “agama vs sains” dengan menyadari bahwa ada keterbatasan sains oleh para ilmuwan, dan karena campur tangan yang tak semestinya terjadi dari para otoritas agama dalam persoalan saintifik.

Tipologi Hubungan Islam dengan Sains

Dalam meninjau hubungan sains dan agama, disini akan menunjukkan pandangan keempat tipe hubungan sains dan Islam terhadap satu tema penting seputar penciptaan alam semesta menurut tesis konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

1.      Konflik
Pandangan Konflik dihadirkan oleh kalangan Atheis yang mengatakan bahwa keseimbangan gaya pada alam semesta yang menghasilkan kondisi yang kondusif bagi munculnya kehidupan dan kecerdasan adalah kebetulan semata. Menurut mereka, manusia secara kebetulan berada di dalam sebuah alam semesta yang memungkinkan hadirnya kehidupan dan kecerdasan. Demikian pula pendapat materialis ilmiah mengenai kosmologi mengarahkan manusia kepada faktor kebetulan atau keniscayaan, bukan mengarahkan manusia kepada desain atau tujuan.

2.      Independensi
Pada pandangan independensi, kalangan teolog mengklaim adanya keharmonisan antara proses kosmik dengan Kitab Kejadian. Sejarah kosmik yang menghasilkan pesona yang cerdas ditafsirkan sebagai ekspresi dari tujuan Tuhan dan sebagai manifestasi sifat Tuhan yang cerdas dan personal.
Selanjutnya pendukung Independensi mengkalim bahwa makna religius dari penciptaan dan fungsi penciptaan tidak ada kaitannya dengan teori ilmiah tentang proses fisika kosmologi yang terjadi pada masa lalu. Menurut mereka dunia tidak pula menjadi bagian dari Tuhan, atau berbeda dengan Tuhan. Sejumlah Teolog berbagi pandangan bahwa kitab suci membawa gagasan yang dapat diterima, tidak tergantung pada kosmologi sains. Sains dan agama melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia. Tujuan sains adalah memahami hubungan sebab-akibat diantara fenomena-fenomena alam, sedangkan tujuan agama adalah mengikuti suatu jalan hidup di dalam kerangka makna yang lebih besar. Pemisahan tersebut menutup kemungkinan adanya hubungan positif dan koheren antara sains dan agama.