teks jalan

ISLAM is not ENEMY

Sabtu, 01 Desember 2012

Renungan Hidup

Mungkin kita selalu disibukan dengan aktivitas sehari-hari, yang membuat kita akan lupa untuk selalu ingat kepada Allah . Sedikit mari kita simak catatan di bawah ini sebagai intermezzo dan semoga menjadi bahan renungan dalam hidup kita.

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?
3. Apa yang paling besar di dunia ?
4. Apa yang paling berat di dunia ?
5. Apa yang paling ringan di dunia ?
6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Jumat, 30 November 2012

Angin dalam perspektif Islam



 A.Pengertian Angin
            Angin dalam konsep ilmu fisika dapat diartikan aliran udara, ia terbentuk di antara dua zona atau tempat yang memiliki suhu yang berbeda. Perbedaan suhu di atmosfer menyebabkan perbedaan tekanan udara, dan mengakibatkan udara terus-menerus mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.(Mulyono,2006:61-62).
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah kesuhu udara yang tinggi.

Jumat, 23 November 2012

INTEGRASI - INTERKONEKSI



Transformasi IAIN menjadi UIN—dalam kasus UIN Sunan Kalijaga secara formal terjadi pada tahun 2004—jelas merupakan titik sejarah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja dalam sejarah panjang pendidikan Islam di Indonesia. Di tengah berbagai problema pendidikan di Indonesia, mulai dari persoalan subsidi dari pemerintah hingga soal rendahnya kualitas pendidikan, transformasi ini melahirkan harapan tertentu dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.

Tentu saja transformasi IAIN menjadi UIN ini hakikatnya adalah transformasi dalam dimensi akademik-keilmuannya, dan bukan sekerad perubahan fisik bangunan atau manajerial pengelolaannya. Di sinilah kemudian menjadi penting bagi setiap civitas akademik UIN untuk bisa menjawab pertanyaan tentang

Science Development Strategy in the Islamic Today and the future


I. Penciptaan paradigma baru tentang sains-teknologi

1. Paradigma yang dimaksud adalah cara pandang terhadap sains-teknologi
2. Studi sains-teknologi menjadi bagian dari studi Islam (ontologi, epistemologi, dan aksiologi)

Ontologi Sains-Teknologi

Bahwa secara ontologis, untuk memahami Allah SWT, dapat dilakukan melalui ayat-ayat qauliyyah dan kauniyyah.
Lebih dari 750 ayat al-Qur’an membahas tentang fenomena alam

PENDEKATAN PEMADUAN ISLAM DAN SAINS


Beberapa Pendekatan Memadukan Islam dan Sains

I. Pendekatan “Sains Islam”

Tokoh :
Sayyed Hossein Nasr
Ziauddin Sardar
Maurice Bucaille

Gagasan :

Perlunya etika islam untuk mengawal sains.
Perlunya landasan epistemologi Islami untuk suatu sistem sains (“sains islam”)

Rabu, 14 November 2012

Dasar-Dasar Ilmu

A. ONTOLOGI

    Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal pikiran yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikatdari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapi pada adanya berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang perupa rohani (kejiwaan).

Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; realitas adalah ke-real-an, artinya kenyataan yang sebenarnya. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab ” apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda-benda Untuk lebih jelasnya penulisan mengemukakan pengertian dan aliran pemikiran dalam ontologi ini.

Selasa, 16 Oktober 2012

Epistimologi BAYANI, BURHANI DAN IRFANI

Pada prinsipnya, Islam telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis yang ada [bayani, irfani dan burhani ], dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat tekstual dan corak berpikirirfani [kasyf] yang sangat sufistik. Kedua kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio [ burhani ] secara optimal.

Dalam epistemologi bayani sebenarnya ada penggunaan rasio [akal], tapi relatif sedikit dan sangat tergantung pada teks yang ada. Penggunaan yang terlalu dominan atas epistemologi ini, telah menimbulkan stagnasi dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan epistemologi bayani selalu menempatkan akal menjadi sumber sekunder, sehingga peran akal menjadi terpasung di bawah bayang-bayang teks, dan tidak menempatkannya secara sejajar, saling mengisi dan melengkapi dengan teks.

Kamis, 11 Oktober 2012

Science Islam vs Science Modern

Saya pernah membaca buku yang berjudul AAS (ayat-ayat semesta), dalam buku tersebut berbicara tentang mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur'an pada sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bagi Agus Purwanto, yang terlibat dalam fisika sebagai misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat tahajud. berikut ini adalah ringkasan dari buku AAS Sejak abad ke-17 hubungan sains dan agama mengalami ketegangan yang tak kunjung henti hingga kini. pendekatan dialog harus terus diupayakan, kesamaan maupun perbedaany. Di Barat, relasi agama dan sains menjadi isu yang kontroversial. Uniknya, hal tersebut juga berimbas ke lingkungan akademisi dua agama, yakni Islam dan Kristen.
Dalam sejarah tradisi intelektual Islam ataupun Kristen sejak periode awal hingga Abad Pertengahan, wacana hubungan agama dan sains cukup pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual bidang keagamaan. Jadi, relasi antara agama dan sains bukanlah isu baru. Dalam buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains (2004), Mehdi Golshani berpendapat bahwa sains dan Islam bukan isu baru. Keduanya, kata Mehdi, sama-sama memiliki dasar metafisika dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan ataupun pengetahuan yang diupayakan, ialah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Singkat kata, kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama (”ilmu amaliah” dan “amal ilmiah”). Namun, hal penting yang perlu digarisbawahi: kegiatan ilmiah atau sains harus tetap memiliki metodologi dan bahasa sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menggeser anggapan “agama vs sains” dengan menyadari bahwa ada keterbatasan sains oleh para ilmuwan, dan karena campur tangan yang tak semestinya terjadi dari para otoritas agama dalam persoalan saintifik.

Tipologi Hubungan Islam dengan Sains

Dalam meninjau hubungan sains dan agama, disini akan menunjukkan pandangan keempat tipe hubungan sains dan Islam terhadap satu tema penting seputar penciptaan alam semesta menurut tesis konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

1.      Konflik
Pandangan Konflik dihadirkan oleh kalangan Atheis yang mengatakan bahwa keseimbangan gaya pada alam semesta yang menghasilkan kondisi yang kondusif bagi munculnya kehidupan dan kecerdasan adalah kebetulan semata. Menurut mereka, manusia secara kebetulan berada di dalam sebuah alam semesta yang memungkinkan hadirnya kehidupan dan kecerdasan. Demikian pula pendapat materialis ilmiah mengenai kosmologi mengarahkan manusia kepada faktor kebetulan atau keniscayaan, bukan mengarahkan manusia kepada desain atau tujuan.

2.      Independensi
Pada pandangan independensi, kalangan teolog mengklaim adanya keharmonisan antara proses kosmik dengan Kitab Kejadian. Sejarah kosmik yang menghasilkan pesona yang cerdas ditafsirkan sebagai ekspresi dari tujuan Tuhan dan sebagai manifestasi sifat Tuhan yang cerdas dan personal.
Selanjutnya pendukung Independensi mengkalim bahwa makna religius dari penciptaan dan fungsi penciptaan tidak ada kaitannya dengan teori ilmiah tentang proses fisika kosmologi yang terjadi pada masa lalu. Menurut mereka dunia tidak pula menjadi bagian dari Tuhan, atau berbeda dengan Tuhan. Sejumlah Teolog berbagi pandangan bahwa kitab suci membawa gagasan yang dapat diterima, tidak tergantung pada kosmologi sains. Sains dan agama melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia. Tujuan sains adalah memahami hubungan sebab-akibat diantara fenomena-fenomena alam, sedangkan tujuan agama adalah mengikuti suatu jalan hidup di dalam kerangka makna yang lebih besar. Pemisahan tersebut menutup kemungkinan adanya hubungan positif dan koheren antara sains dan agama.